Hanya ingin berbagi pengalaman tentang memaknai apa yang disebut rezeki. Dua minggu ini, MasyaAllah hati saya dibuat takjub oleh kejadian-kejadian yang tidak mungkin sesuatu kebetulan. Allah telah merancang dan mengaturnya sedemikian rupa secara lembut dan menyentuh hati.
Suatu hari saya, suami dan seorang sepupu berencana ingin barbeque, lalu saya menginginkan sosis untuk dibakar, namun berhubung males pergi membeli sosis ke supermarket, akhirnya bakar sosis hanya jadi wacana saja. Begitu pun acara barbeque, daging sapi padahal sudah tersedia. Tinggal olah saja, tapi hujan yang tak henti mengguyur akhirnya membuat kami malas dan hanya ngobrol santai saja.
Hari berlalu, saya sudah melupakan keinginan sosis bakar karena padatnya aktivitas. Namun tiba-tiba di pagi hari, telepon berdering. Seorang teman berbicara di ujung sana, bahwa dirinya sedang di pasar. Dia melihat sosis dan ingin membelinya untuk dibawa ke rumah saya. Dia mengajak saya barbeque bersama teman yang lainnya, sekalian sambil mengambil sendal anaknya yang tak sengaja tertinggal di rumah saya tempo hari.Memang dua hari yang lalu dia menelepon, jika anaknya merengek terus menanyakan sendal yang tertinggal di rumah saya, dan berencana mengambilnya. Namun acara ke pasar dan membeli sosis bukan bagian dari rencananya. MasyaAllah, Subhanallah Walhamdulillah, tangan Allah bekerja di kejadian ini, sehingga saya menikmati rezeki saya untuk memakan sosis bakar dan bercanda tawa dengan sahabat-sahabat saya.
Kejadian kedua, terjadi di hari sebelumnya. Ceritanya saya sedang berkunjung di rumah mertua. Saya melihat tukang gorengan yang memang masih sodara ibu mertua saya. Anak saya kebetulan sedang bermain bersama temannya di sebrang tukang gorengan tersebut. Saya merasa menginginkan gorengan tempe, saya lalu berniat akan mengambil uang ke rumah untuk beli gorengan, sekalian membawa makan untuk anak.
Namun saat pulang ke rumah mertua, saya hanya mengambil makanan anak, dan lupa membawa uang. Karena males bolak-balik jadinya saya memilih untuk tidak jadi membeli gorengan.
Hari sudah beranjak Maghrib, saya mengajak pulang anak saya. Namun anak saya malah menangis tidak ingin pulang, di sela tangisnya dia mengajak jajan. Akhirnya saya meminjam uang dari adik ipar saya sebesar dua ribu, buat sekedar beli permen ke tukang gorengan di sebrang. Sesudah sampai anak saya malah tidak ingin jajan, di saat itulah si ibu tukang gorengan membungkus gorengan buat saya. Ibu gorengan pun menolak untuk saya bayar. Subhanallah, saya diberi lupa, anak saya merengek jajan, lalu akhirnya saya dapat gorengan tempe geratis. Adakah sesuatu kebetulan di kejadian ini. Andai anak saya tak menangis mungkin saya tidak akan menghampiri tukang gorengan itu. Atau jika saya tidak lupa, saya akan membeli dengan uang saya. Namun Allah berkehendak lain, Dia mempunyai cara tersendiri untuk memberikan rezeki-Nya dengan cara yang lebih indah.
Kejadian ketiga, terjadi hari ini. Membuat rasa takjub saya bertambah kepada-Nya. Sehari sebelumnya saya dan suami jalan-jalan sore. Saat membeli jagung rebus, anak saya melihat odong-odong di sebuah minimarket. Anak saya merengek ingin naik odong-odong. Suami saya berkata "Kita naik odong-odong yang dekat rumah saja yuk!"
Saya membujuk anak saya, untuk naik odong-odong di minimarket dekat rumah. Namun saat tiba di sana, odong-odong penuh terisi semua oleh anak-anak. Saya dan suami merasa kasihan sama anak saya, yang akhirnya tidak jadi naik odong-odong. Meski sudah tidak merengek tetap saja kami merasa kasihan.
Keesokan harinya, adik saya mengajak anak saya untuk menemui ibu yang sedang ada kegiatan lomba murid-muridnya. Ternyata lomba diadakan di sebuah supermarket. Saya dikirimi foto anak saya yang sedang naik odong-odong. Pulangnya diceritakanlah, anak saya tidak mau pulang. Semua odong-odong yang ada disana sudah semua dinaiki, kurang lebih lima puluh ribu ibu saya membayarkannya. Tentu saja, Ibu saya sangat menyayangi cucunya. Apa yang cucunya inginkan akan tak masalah baginya untuk mengabulkannya. Ah ya Allah, serius ini lebih dari ekspetasi saya, yang awalnya hanya akan sekedarnya membeli koin untuk odong-odong. Di kejadian yang ini saya teringat akan ayat-Nya "Dan sungguh, kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, sehingga engkau menjadi puas." (QS Ad-Duha:5)
Rezeki. Mungkin selama ini selalu mengartikannya sekedar uang saja. Padahal dicukupkannya makanan, dipenuhi semua kebutuhan, kesehatan juga terpeliharanya keimanan merupakan rezeki juga. Rezeki itu la yahtasib, tidak terduga, mungkin seperti yang saya alami dua Minggu ini. Tidak berupa uang segepok atau emas sekilo, namun berupa keinginan-keinginan yang terbersit di kepala saya yang diberikannya dengan cara yang indah, dan di luar kendali rencana saya. Seperti yang dikatakan pada ayat-Nya "Barangsiapa yang bertakwa kepada ALLAH nescaya Dia akan menjadikan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.” (Q.S. At-Thalaq : 2-3).
Saya tulis pengalaman ini, dengan niat memberi inspirasi. Semoga niat ini lurus, dan saya berlindung kepada-Nya dari berbagai penyakit hati atas dituliskannya pengalaman ini. Hanya sekedar berbagi dan self reminder, besok-besok jika dapat membeli minyak diskonan, menyeruput teh manis disertai gorengan di pagi hari, bahkan mendengar tangisan dan rengekan anak. Kita akan bersyukur dan menyadari jika itu rezeki. Karena, di luar sana banyak yang sangat mampu membeli teh dan gula, namun tak bisa menikmatinya karena diabetes. Di luar sana juga, banyak yang sudah pontang-panting, menemui berpuluh-puluh dokter kandungan dan pengobatan alternatif, hanya untuk mendengar rengekan seorang anak di rumahnya. Bersyukurlah atas segala sesuatu yang telah diberikan-Nya. Wallahu alam bishawab.

No comments:
Post a Comment